Ya Ampun Tayangan Suara Hati Istri Jadi Kontroversi, Angkat Isu Perkawinan Anak dan Eksploitasi Seksual, Komplit dalam Sinetron

Nyedulur
  • 9 hari yang lalu
  • arief

Sumber Foto: IST.

Belakangan salah satu cerita sinetron Indonesia menjadi buah bibir masyarakat. Mereka mengecam dan menyerukan agar siaran yang tayang di Indosiar dihentikan.

Pasalnya sinetron berjudul Suara Hati Istri yang tayang sejak 24 Mei 2021, memiliki kisah poligami yang tidak sepantasnya menggunakan aktris di bawah umur. Terlebih lagi karakter tersebut berperan menjadi istri ketiga.

Banyak masyarakat yang membuat petisi agar sinetron tersebut segera dihentikan proses produksi maupun jadwal tayangnya di layar kaca.

Tak hanya itu, banyak adegan dalam sinetron menjadi sorotan dan dinilai tak pantas bagi pemeran yang masih berusia 15 tahun. Selain itu, alur cerita juga menjadi perhatian dan dianggap permisif terhadap pernikahan anak.

Dilansir Kompas terkait kontroversi itu, sejumlah kalangan dari kalangan artis, Komisi Penyiaran Indonesia, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan respons masing-masing.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Agung Suprio meminta semua lembaga penyiaran tidak mempromosikan pernikahan dini dalam setiap programnya. Berdasarkan aturan UU Perkawinan, kata Agung, batas minimum seorang warga negara Indonesia untuk menikah adalah 19 tahun.

KPI sudah meminta stasiun televisi Indosiar untuk mengevaluasi dan mengganti peran perempuan yang masih berusia 15 tahun tersebut.

“Kami meminta kepada pihak Indosiar untuk segera berbenah, yang paling mudah adalah mengganti peran perempuan itu yang secara riil, kan 15 tahun, dan ini episodenya masih panjang, masih permulaan, jadi masih bisa ya mengubah alur cerita atau bagaimana begitu,” kata KPI.

Sementara itu, Komisioner KPI Bidang Kelembagaan Nuning Rodiyah mengingatkan agar televisi dan rumah produksi sinetron Zahra melakukan sejumlah hal untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak.

“Sinetron Zahra harus evaluasi pemeran dan muatan sinetron,” ujar Nuning.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun ikut bersuara soal keriuhan ini. Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati menyebutkan adanya potensi eksploitasi ekonomi dan seksual dari tayangan tersebut.

“Belum lagi kita bicara teknis pengambilan gambarnya. Itu sering sekali melewati jam malam. Itu juga jadi isu ketenagakerjaan di dalam media ini. Pengadaan siaran ini juga jadi problematik,” kata Rita.

Dia tak menampik kebutuhan peran anak dalam beberapa siaran televisi. Namun, tidak kemudian ditonjolkan seperti dalam sinetron Suara Hati Istri.

Artikel Lainnya