Ya Allah, Keren Banget, Masjid Tua di Sidoarjo Ini Masih Gunakan Jam Matahari untuk Tentukan Waktu Salat

Nyedulur
  • sebulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Sidoarjonews.id.

Pernahkah Anda mendengar istilah jam matahari? Serasa kembali ke zaman kerajaan Yunani dan Mesir kuno. Kedua negara ini pernah menggunakan jam pasir utnuk menentukan waktu pada abad sebelum masehi.

Jam matahari merupakan alat sederhana yang menunjukkan waktu, berdasarkan pergerakan matahari di meridian.

Selain itu, alat yang berasal dari Yunani ini juga sudah terbilang sangat kuno. Faktanya, di era modern saat ini masih ada tempat yang menggunakan jam matahari.

Sebut saja Masjid Baiutssholihin di Sidoarjo. Ini adalah masjid yang cukup tua di Sidoarjo. Lokasinya di Dusun Sawah, Desa Kedung Cangkring, Kecamatan Jabon. Sementara dalam menentukan waktu salat masih menggunakan jam matahari. Kere, kan!

Berdasarkan laporan Detik, masjid di kawasan terdampak luapan lumpur Lapindo Porong ini masih digunakan salat.

Meski di sekitar masjid tidak ada pemukiman warga. Masjid tua yang sudah tiga kali dirombak ini terletak di sisi selatan tanggul penahan lumpur.

Kesan tua Masjid Baitussholihin terlihat dari tempat wudhu yang berada di samping. Tempat wudhu mirip kolam air berukuran 1,5 x 4 meter dan terdapat beberapa gayung untuk mengambil air wudlu.

“Jam ini abadi. Waktu salat Zuhur dan Asar bisa ditentukan lewat kemiringan bayangan cahaya dari besi di tengah,” kata Takmir Masjid Baitussholihin, Mudzakir dikutip dari Detik.

Namun, dia mengaku tidak bisa mengatakan dengan pasti kapan Masjid Baitussholihin didirikan. Namun masjid itu terkesan tua dengan melihat tiang penyangga beduk masjid yang terbuat dari bambu.

“Kata ayah saya, di sini dulu bekas pondok pesantren. Letaknya di utara masjid ini. Sejak saya kecil, bangunannya ya seperti ini. Ayah bercerita, awalnya hanya musala bambu berukuran kecil yang ada di depan. Lalu berkembang menjadi pondok pesantren,” tandas Mudzakir.

Artikel Lainnya