Waspadalah, Mendengkur saat Tidur Bisa Disebabkan Gangguan Kesehatan, Tenang, Kata Ahli Bisa Diatasi

Nyedulur
  • sebulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Intermountain Healthcare

Posisi tidur itu mirip orang pingsan. Sebab pada saat itu banyak yang tidak sadar apa saja yang dilakukan. Sebut saja ngelindur maupun mendengkur atau ngorok. Kondisi ini disebabkan terhalang atau atau terjadi menyempitnya saluran pernapasan.

Kadang-kadang mendengkur juga dapat mengganggu kenyamanan tidur pasangan maupun orang yang ada di sekitar.

Banyak yang berpendapat mendengkur sesuatu yang normal. Tidak membahayakan. Tapi Anda perlu tahu, bahwa mendengkur bisa saja menjadi tanda-tanda gangguan kesehatan.

Seseorang ngorok atau mendengkur saat tidur, menurut ahli yang sudah dilansir dari CNN Indonesia, ada penyebabnya.

Timbulnya suara dengkuran saat tidur karena terdapat jaringan ikat di tenggorokan yang kendor. Hal inilah yang membuat lidah jatuh ke belakang.

“Saat ini terjadi, begitu seseorang tidur dan menarik dan membuang napas timbul suara. Sama seperti suling yang lubang bunyinya ditutup,” kata Psikiater Dharmawan A Purnama.

Ngorok karena jaringan ikat yang kendur bisa dihentikan dengan memiringkan atau membuat seseorang tidur tengkurap.

Selain itu, mendengkur dapat terjadi karena pengaruh dari sistem saraf pusat di otak. Gangguan ini dikenal juga dengan sleep apnea. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang tidak bernapas atau kekurangan oksigen saat tidur.

“Ada juga ngorok yang sifatnya sentral di pusat pernapasan di otak. Paling sering karena terdapat infark atau sumbatan di otak. Lainnya bisa karena penyakit Parkinson dan demensia,” tutur Dharmawan yang juga dokter spesialis kedokteran jiwa di RSJ Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta.

Prevalensi sleep apnea meningkat sesuai usia. Kondisi ini juga lebih mungkin terjadi pada orang dengan obesitas dan perokok. Studi menunjukkan sleep apnea terjadi pada 27 persen lansia pria dan 19 persen lansia perempuan.

Pernyataan serupa juga disampaikan dokter spesial saraf di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), dr Nurul Rakhmawati Ismail saat dihubungi secara terpisah.

“Karena obesitas bentuk lehernya enggak jenjang jadi pendek. Lalu, jenis kelamin juga mempengaruhi. Ini (mendengkur) seringkali terjadi pada yang jenis kelaminnya laki-laki. Laki-laki punya risiko dua kali lebih tinggi dibanding perempuan,” Nurul menjelaskan.

Mendengkur karena gangguan sistem saraf tidak bisa diberhentikan walaupun seseorang tersebut tidur miring atau tengkurap.

Artikel Lainnya