Waspada, Kanker Payudara Ini Tak Bisa Dikenali dengan Diraba, Tak Ditangani BPJS

Nyedulur
  • 23 hari yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Hindawi.

Kanker payudara menjadi momok paling menakutkan kaum hawa. Masalahnya penyakit ini bisa mengurangi penampilan, identitas, hingga kebahagiaan berumah tangga.

Biasanya kanker payudara muncul karena adanya pertumbuhan sel-sel abnormal dan tidak terkedali di jaringan payudara. Selain itu, kanker ini berawal dari saluran susu (duktus), kelenjar susu (lobulus), atau jaringan ikat di dalamnya.

Jenis kanker payudara pun dibagi menjadi berbagai macam. Sebut saja kanker payudara inflamasi hingga kanker payudara HER2-Positif.

Kanker payudara tipe HER2 Positif merupakan kanker payudara yang hasil pemeriksaannya menunjukkan adanya peningkatan protein human epidermal growth factor recepetor 2 atau HER2.

Tak hanya itu, jika biasanya cara mendeteksi awal kanker payudara adalah dengan meraba benjolan. Namun kanker payudara tipe HER2 ini sulit terdeteksi.

Terutama pendeteksian hanya melalui perabaan benjolan, kata dokter spesialis bedah onkologi di RSCM, Sonar Soni Ponigoro dilansir dari Merdeka.

“Penentuan tipe kanker setelah pemeriksaan patologi untuk mengetahui kanker atau tidak. Untuk sampai ke tipe HER2 harus dilanjutkan pemeriksaan imunohistokimia untuk menentukan tipe HER2 atau bukan. Hampir tidak mungkin (benjolannya HER2 atau bukan) diperiksa di rumah,” urainya.

Dengan kata lain, tidak ada cara mendeteksi kanker payudara tipe HER2, selain memeriksakan imunohistoskimia. Walau begitu, tak ada tanda khusus mengarah kecurigaan pada tipe kanker ini, selain benjolan yang juga muncul pada tipe lainnya.

Mengenai pencetus tipe kanker payudara ini, menurut Sonar, belum ada penelitian yang yang spesifik memperlihatkan HER2 akibat gaya hidup yang buruk.

HER2 hanya mengandung reseptor HER2 tanpa reseptor hormon progesteron dan estrogen seperti pada luminal A dan B. Pengobatannya pun hanya kemoterapi dan pemberian obat anti-HER2 atau trastuzumab.

“Untuk HER2 hanya bisa diberikan kemoterapi setahun karena setelah itu tidak ada manfaat lain. Untuk obat-obat kemoterapi kita belum mampu memproduksi karena bahan baku masih sulit dan teknologi yang tidak murah. Trastuzumab masih impor, walau sekarang sudah ada obat yang mirip,” tutur Sonar.

“Awalnya harga trastuzumab di atas Rp25 juta sekarang sudah ada di bawah Rp10 juta. Namun pemberian untuk stadium dini belum masuk tanggungan BPJS, baru untuk stadium lanjut," sambungnya.

Artikel Lainnya