Waduh, Sejarawan Bilang Ulang Tahun Surabaya Bukan 31 Mei, Wakil Wali Kota: Silahkan Digugat!

Nyedulur
  • 12 hari yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Bhirawa.

Kota Surabaya, Jawa Timur baru saja merayakan ulang tahun ke-728. Perayaan itu jatuh setiap tanggal 31 Mei. Sementara tahun ini perayaan hari jadi kota Surbaya (HJKS) jatuh pada Senin 31 Mei 2021.

Di balik suka cita itu muncul pertanyaan besar. Apakah benar, ulang tahun Surabaya selalu dirayakan setiap tanggal 31 Mei?

Adanya pertanyaan ini membuat Pemkot Surabaya mempersilakan sejarawan menggugat tanggal resmi Hari Jadi Kota Surabaya.

Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menganggap jika HUT Kota Surabaya resmi digugat merupakan bentuk kepedulian warga.

“Kami siap kalau digugat. Ini adalah wujud kepedulian warga Surabaya hingga hari jadinya pun juga dikaji secara serius dan mendalam,” kata Armuji usai memperingati Hari Lahir Pancasila di Surabaya, mengutip Antara melalui Suara Selasa 1 Juni 2021.

Menurutnya, pihak yang telah mendapat masukan dari sejarawan saat menghadiri diskusi bertema “Menggugat Hari Jadi Kota Surabaya” yang digelar Komunitas Begandring Soerabaia di Surabaya pada Senin 31 Malam 2021 malam.

Diskusi yang juga dihadiri beberapa sejarawan itu membahas tanggal resmi Hari Jadi Kota Surabaya yang menurut mereka bukan 31 Mei 1294, melainkan 1 April 1906.

Beberapa sejarawan hadir dalam diskusi tersebut. Salah satunya adalah Nanang Purwono dari Komunitas Begandring Soerabaia.

Armuji menyampaikan apabila sejarawan ingin menggugat tentunya ada mekanismenya yang harus dilalui. Salah satunya harus dibentuk panitia khusus (pansus) yang nanti akan dibahas bersama di DPRD Surabaya.

Hal itu sesuai dengan pengalaman Armuji saat menjadi Ketua DPRD Kota Surabaya. Saat itu, kata dia, DPRD Surabaya diminta mengubah nama Jalan Gunungsari menjadi Siliwangi dan Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda sebagai bagian dari rekonsiliasi budaya antara Sunda dan Jawa.

“Jangan sampai melupakan sejarah. Harus terang benderang kejelasannya. Surabaya itu tempatnya orang berani,” katanya.

Menurut dia, diskusi dibutuhkan karena merupakan bagian dari proses interaksi sosial yang ada di Kota Surabaya. Meski diskusi tersebut digelar di tengah pandemi Covid-19, namun tetap menjaga protokol kesehatan.

Artikel Lainnya