Tahu Nggak Sih, Kastengel Bukan dari Indonesia, di Negeri Asalnya Dimakan dengan Sup dan Salad

Nyedulur
  • 13 hari yang lalu
  • arief

Sumber Foto: IST.

Sulit menghapus tradisi Hari Raya Idul Fitri. Salah satunya adalah mudik. Tradisi ini masih dilakukan sebagian masyarakat kendati dilarang pemerintah untuk mencegah penularan virus corona.

Tradisi lain yang kerap muncul di hari spesial bagi umat Muslim Indonesia adalah ketupat dan kue lebaran. Kue kering yang selalu dijumpai adalah nastar, putri salju dan kastengel.

Kastengel paling banyak diburu di antara kue kering lainnya. Sebab rasa yang gurih dengan bentuk mungil. Itu sebabnya harga kastengel cukup mahal dibandingkan dengan kue kering lainnya, selain disukai di semua level usia.

Nah, omong-omong soal kastengel mudah ditebak asalnya. Bukan dari Indonesia, melainkan dari Belanda.

Mengutip VIVA, yang menjadi pembeda kastengel adalah merk keju yang digunakan dan sebanyak apa takaran kejunya. Adapun keju merupakan bahan wajib kue kering untuk memberikan aroma dan citarasa yang khas.

Kastengel adalah kue kering asal negeri kincir angin Belanda. Di Belanda, kastengel dinamai kaasstengels. Terdiri atas dua suku kata kaas yang berarti keju dan stengels yang berarti batangan.

Berbeda dari di Indonesia, kastengel bukan kue kering yang muncul saat hari raya/hari besar. Di negara asalnya, kastengel bahkan pernah digunakan sebagai pengganti mata uang.

Kejadian tersebut bermula terjadi di kota Krabbedijke, di mana transaksi jual beli dilakukan dengan cara barter dengan menggunakan kastengel.

Kastengel masuk dalam golongan makanan elite karena menggunakan komposisi keju yang mahal. Sehingga warga negara Belanda merasa tidak rugi jika barter dengan kastengel.

Di negara asalnya, kastengel tidak disajikan kecil-kecil seukuran jari melainkan memiliki panjang 30 cm dan disajikan dengan sup panas. Atau dipotong-potong untuk jadi pelengkap salad.

Sudah membuat atau justru memesan kastengel untuk Lebaran?

Artikel Lainnya