Sederet Ilmuwan Kirim 6,7 Juta Sperma dan Sel Telur ke Bulan, Buat Apa?

Nyedulur
  • 3 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: iStock Photo.

Sejauh ini kehidupan di planet ini hanya terdapat di bumi. Perdaban manusia hidup berdampingan dengan tumbuhan, binatang, maupun benda mati. Cukup banyak benda mati yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan di bumi.

Sementara hasil penelitian ilmuwan belum menemukan kehidupan di planet lain. Apa jadinya bila kehidupan diciptakan di luar bumi? Seperti itulah kemungkinan yang akan dilakukan ilmuwan.

Seperti dilansir Detik, beberapa ilmuwan akan mengirimkan berjuta-juta sampel spema dan sel telur ke bulan. Kabarnya, rencana tersebut untuk membuat populasi baru.

Bahkan rencana itu dimulai dengan membangun bank sperma dan sel telur. Bank sperma tersebut akan menjadi gudang sel reproduksi, yang mereka sebut 'polis asuransi global modern'.

Isinya adalah sperma dan sel telur dari 6,7 juta spesies di bumi, termasuk manusia. Gudang tersebut nantinya akan dibangun di bawah permukaan Bulan.

Para ilmuwan menyebut tujuan dari pembuatan bank sel reproduksi ini untuk persiapan manusia dalam menghadapi krisis di Bumi seperti bencana alam, kekeringan, asteroid, dan potensi perang nuklir.

Mereka mengatakan, manusia harus bisa melestarikan kehidupan di tempat lain selain bumi.

“Bumi adalah tempat yang mudah berubah. Karena ketidakstabilannya, penyimpanan di Bumi akan membuat spesimen rentan,” kata Jekan Thanga, penulis penelitian ‘Lunar Pits and Lava Tubes for a Modern Ark’.

Dalam pertemuan di Institute of Electrical and Electronics Engineers Aerospace Conference, Jekan Thanga dan rekan-rekannya, dari Universitas Arizona, mengusulkan untuk memulai semacam eksodus planet dengan mendirikan gudang benih manusia sesegera mungkin.

‘Ark’, atau ‘bahtera’ di bulan disebut menjadi tempat yang sangat baik untuk menyimpan sel reproduksi makhluk hidup. Memiliki kedalaman 80-100 meter, tempat tersebut bisa menahan perubahan suhu drastis dan ancaman meteor juga radiasi.

Kita masih bisa menyelamatkan manusia sampai kemajuan teknologi selanjutnya bisa memperkenalkan kembali spesies ini, dengan kata lain, simpan mereka untuk hari lain.

Thanga mengatakan, ada banyak tumbuhan dan hewan yang kini terancam punah. Dia lalu menyebut letusan Gunung Toba di Indonesia 75.000 tahun lalu, dijadikan alasan. Peristiwa itu, kata dia, menyebabkan periode pendinginan 1.000 tahun dan sejalan dengan penurunan keragaman manusia.

Thanga menambahkan bahwa dia 'terkejut' dengan betapa 'hemat biaya' misi tersebut. Untuk mengangkut 50 sampel dari setiap spesies (target 6,7 juta) dibutuhkan 250 peluncuran roket.

Artikel Lainnya