Perairan Papua Utara Pernah Dijadikan Pertempuran Pasifik, Ini Jumlah Pesawat dan Kapal Tenggelam

Nyedulur
  • sebulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: The Aviation History Museum.

Perang Dunia kedua pecah di dua wilayah. Pertama sudah jelas, terjadi di hampir seluruh negara Eropa akibat invasi Jerman. Lokasi kedua di sebagian Asia Pasifik dan Amerika Serikat karena agresi Jepang.

Perang di Pasifik tidak kalah seru dengan di Eropa. Di mana Perang Pasifik melibatkan Amerika Serikat (AS) bersama sekutu melawan Jepang.

Pertempuran ini tidak hanya di darat, tapi juga pecah di udara hingga lautan. Mulai dari Pearl Harbor di AS hingga Filipina maupun di perairan utara Papua.

Akibatnya banyak bangkai kapal maupun pesawat yang diduga jatuh di perairan Papua. Bahkan cukup banyak catatan pesawat dan kapal karam di perairan utara Papua, pada Perang Dunia kedua .

Mengutip Detik, perairan utara Papua sebelum dijadikan lokasi Perang Dunia kedua, telah dijadikan rute utama perdagangan. Kapal-kapal Spanyol dari Meksiko menuju Maluku dan sebaliknya, kerap melintas utara Papua pada abad ke-16.

Setelah Perang Dunia kedua belum pernah dilakukan penelitian arkeologi bawah air. Salah satus sebabnya keterbatasan peralatan dan sumber daya manusia. Belum lagi biayanya gede.

Disebut butuh dana besar untuk membeli peralatan, akses ke lokasi, serta tingkat kesulitan yang cukup tinggi, untuk melakukan penelitian arkeologi bawah air.

Kapal peninggalan Perang Pasifik milik Amerika, The Junkyard terdapat di perairan Pulau Amsterdam, Tambrauw. Kapal Jepang, Shikwa Maru di perairan Manokwari.

Pesawat Mitsubishi A6M Zero dan Mitsubishi G4M2 Jepang di perairan Pulau Rouw, Teluk Wondama. Pesawat Amerika P47-D Razorback di Pulau Wai, Raja Ampat.

Bangkai pesawat PBY Catalina di perairan pantai timur Pelabuhan Biak. Pesawat tempur Sekutu di perairan Pulau Ahe, Nabire.

Pesawat tempur Jepang di perairan Ndomande, Merauke. Bangkai pesawat peninggalan Perang Pasifik du Tanjung Demoy, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.

Pemerintah Indonesia perlu meratifikasi Konvensi UNESCO tahun 2001 tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air. Dalam konvensi ini mengatur tentang perlindungan warisan budaya bawah air untuk kepentingan umat manusia sekaligus mencegah eksploitasi secara komersial.

Dengan meratifikasi konvesi UNESCO, pemerintah Indonesia harus menyediakan dana untuk penelitian dan perlindungan tinggalan arkeologi bawah air.

Artikel Lainnya