Pandemi Covid-19 Timbulkan Coronasomnia, Dampaknya Sering Tidur Siang, Tenang, Ada Cara Mencegahnya

Nyedulur
  • sebulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: NHLBI-NIH.

Pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona sejauh ini belum mereda. Itu di Indonesia ya, gaes. Dampaknya cukup besar terhadap aspek kehidupan. Belakangan muncul coronasomnia. Apa lagi itu?

Coronasomnia sebetulnya mirip dengan insomnia. Sama-sama sulit tidur. Tidak bisa dengan mudah memejamkan mata.

Perbedaannya terletak sulit tidur salama masa pandemi. Pemicunya bisa saja karena seseorang sangat mencemaskan kondisi serba tak pasti yang terjadi saat ini.

Selain itu, bagi orang yang menderita gangguan susah tidur sering merasa kurang fit saat bangun dari tidur, ataupun saat melakukan aktivitas.

Padahal umumnnya, seseorang butuh delapan jam tidur dalam sehari untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit. Apalagi di masa pandemi saat ini.

Dilansir dari CNN Indonesia, World Sleep Society bahkan mencatat masalah tidur sebagai masalah global yang mengancam kesehatan dan kualitas hidup sebanyak 45 persen populasi di dunia.

Untuk mengatasi masalah tersebut, banyak orang beralih ke aktivitas tertentu untuk mengalihkan perhatian dari kecemasan terhadap pandemi. Namun, sayangnya cara tersebut malah menghambat kemampuan untuk tertidur.

Berikut adalah 10 kesalahan umum untuk mengatasi masalah tidur yang perlu Anda ketahui.

Terlalu banyak bermain gawai, ini adalah kebiasaan buruk yang tak bisa ditolak siapa pun. Kebiasaan mengintip unggahan terbaru dari teman di media sosial membuat mata justru tertuju pada cahaya biru yang dapat mengganggu tidur.

“Cahaya terang dari TV, komputer, dan ponsel pintar dapat memengaruhi pola tidur dan membuat Anda tetap waspada pada saat harus mengantuk,” kata spesialis tidur, dr Raj Dasgupta dari Keck School of Medicine, University of Southern, California, Amerika Serikat.

Cahaya biru menekan kadar melatonin dalam tubuh yang disekresikan dalam ritme sirkadian 24 jam setiap hari. Melatonin sendiri dikenal sebagai hormon tidur.

Hindari penggunaan komputer, ponsel, dan laptop setidaknya 1-2 jam sebelum tidur.

Banyak orang mengandalkan alarm untuk terbangun di pagi hari. Namun, saat alarm berbunyi, yang ditekan adalah tombol snooze. Padahal, cara ini membuat seseorang tak bisa terbangun sepenuhnya.

Secara ilmiah, tidur terdiri atas beberapa fase. Saat Anda mendekati akhir tidur, maka Anda mendekati siklus akhir dari fase REM atau rapid eye movement.

“Menekan tombol snooze dalam fase ini akan membuat Anda kembali tidur,” ujar ahli tidur, Rebecca Robbins. Tidur yang kedua ini tak memiliki kualitas yang baik.

Pasalnya, saat alarm berbunyi kembali beberapa menit kemudian, Anda akan berada di fase tengah tidur, bukan akhir. Sesungguhnya belum siap untuk tertidur. Anda akan merasa pusing saat terbangun.

“Itu membuat tidur malam yang buruk nantinya,” ujar Robbins.

Artikel Lainnya