Mudik Dilarang, Pengusaha Transportasi Mulai Resah, Ini Masukan ke Pemerintah

Nyedulur
  • sebulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Kompas.

Pemerintah telah mengeluarkan larangan mudik Lebaran. Aturan itu berlaku untuk tanggal 6-17 Mei 2021 yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Terlebih Kementerian Perhubungan juga menerbitkan aturan tentang operasi transportasi umum pada angkutan mudik.

Terbitnya larangan itu tak pelak membuat pengusaha transportasi mulai resah. Pengusaha transportasi tidak bisa memanfaatkan momen untuk mengais pendapatan.

Mengutip Suara, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto mengatakan, pelarangan mudik tersebut belum tentu efektif.

Dia mengusulkan untuk menghindari lonjakan Covid-19, pemerintah dapat melakukan pengendalian dan pengetatan terhadap angkutan umum dan angkutan pribadi yang melakukan perjalanan dengan dilakukan tracing atau screening Covid-19.

“Tracing dapat dilakukan, misalnya di terminal Tipe A menggunakan GeNose yang berbiaya lebih murah,” ujar Carmelita, Jumat 16 April 2021.

Carmelita melanjutkan, akan lebih baik apabila tracing penumpang dapat difasilitasi pemerintah. Salah satunya dengan dilakukan secara gratis selama angkutan lebaran.

Belajar dari tahun lalu, sambung Carmelita, banyak pemudik yang tetap kucing-kucingan agar tetap bisa pulang ke kampung.

Meski ada upaya penyekatan dan menghambat pergerakan orang di wilayah-wilayah perbatasan, tapi pemudik justru menggunakan angkutan ilegal berplat hitam.

Diharapkan, petugas di lapangan dapat memastikan, penggunaan angkutan ilegal pada angkutan mudik seperti tahun lalu tidak terjadi lagi.

Belum lagi, katanya, banyak pemudik yang melakukan perjalanan ke kampung halaman sebelum diberlakukannya pelarangan mudik.

Pelarangan mudik akan semakin memberatkan sektor angkutan darat. Jika setelah pelarangan mudik dilanjutkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), karena terjadi lonjakan angka terpapar covid di daerah. Ini akan memperparah penderitaan angkutan jalan.

Artikel Lainnya