Mengenal Asal-Usul Suku Jawa, Ada yang Bilang dari Cina, Penelitian Menyebut Asli

Nyedulur
  • 4 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Tirto/KITLV.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Salah satu kekayaan indoensia adalah keragaman suku bangsa, yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Begitu juga dengan keragaman budaya dan agamanya.

Jika ditelaah, suku Jawa merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia. Tercatat 40,22 persen dari populasi penduduk yang tinggal di negara ini. Selain itu, suku Jawa terkenal akan keunikannya yang meliputi budaya, bahasa, dan kuliner. Adapun ciri khas suku Jawa adalah memiliki sifat dan tutur kata yang halus.

Catatan Good News From Indonesia, suku Jawa tidak hanya tinggal di Pulau Jawa. Namun tersebar di berbagai pelosok Indonesia, karena transmigrasi, kemauan, atau karena pekerjaan dan pernikahan.

Peradaban suku Jawa termasuk maju. Hal ini dapat dibuktikan adanya peninggalan kerajaan-kerajaan besar yang berada di tanah Jawa, yang masih bisa dilihat hingga kini. Misalnya Candi Borobudur, Prambanan, Mendut, Singosari, dan candi lainnya.

Meskipun suku Jawa tersebar di seluruh nusantara, namun banyak orang tak tahu sejarah dan asal-usulnya. Apakah suku Jawa berasal dari nenek moyang asli pribumi? Atau sebagai pendatang?

Menurut arkeolog, Eugene Dubois, seorang ahli anatomi yang berasal dari Belanda menemukan sebuah fosil manusia purba homo erectus. Fosil ini ditemukan di Trinil pada 1891. Pasca penemuan ini, dilakukan perbandingan antara DNA fosil kuno dengan suku Jawa di masa kini.

Hasilnya, DNA tersebut tidak memiliki perbedaan jauh dengan masyarakat Jawa sekarang. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya fosil manusia purba, yaitu pithecanthropus erectus. Sehingga para arkeolog meyakini bahwa nenek moyang orang Jawa adalah penduduk pribumi.

Berbeda dengan Eugene, menurut seorang sejarawan justru berbanding terbalik. Von Hein Geldern menyebutkan bahwa telah terjadi migrasi penduduk dari daerah Yunan (Cina) di kepulauan Nusantara.

Migrasi ini sudah ada sejak zaman neolitikum 2000 SM, sampai zaman perunggu 500 SM, secara besar-besaran bertahap menggunakan perahu cadik.

Begitu juga Dr. H. Kern menyebutkan, berdasarkan penelitiannya di tahun 1899 bahwa bahasa daerah di Indonesia mirip satu sama lain. Kern menarik kesimpulan bahwa bahasa tersebut akar dari rumpun yang sama, yaitu Austronesia. Percaya yang mana, gaes?

Artikel Lainnya