nyedulur.com

Mengenal Ajag, Anjing Khas Indonesia, Ada di Hutan Jawa dan Sumatra, Berapa Populasinya?

Nyedulur
  • 5 hari yang lalu
  • arief

Sumber Foto: IST.

Pada Desember 2020 lalu, anjing ajag menjadi buah bibir di Indonesia. Anjing ini diduga memangsa 15 kambing dan satu ekor anak sapi di Desa Ciangir dan Desa Cipondok, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Tiba-tiba saja nama ajag diburu. Usut punya usut, ajag merupakan anjing khas Indonesia. Memang anjing ini jarang disebut. Masalahnya masyarakat Indonesia lebih mudah mengenal anjing jenis chihuahua, beagle, maltese, pomeranian, golden retriever, husky dan lainnya.

Ajag merupakan fauna berasal dari spesies Cuonalpinus. Di Indonesia, ada dua jenis yaitu Cuonalpinusjavanicus (anjing hutan jawa) dan Cuonalpinussumatrensis (anjing hutan sumatera). Di beberapa daerah Jawa, ajag sering disebut asukikik.

Mengutip Greeners melalui Good News From Indonesia, ajag tersebar mulai dari Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Russia, Tajikistan, Thailand, dan Vietnam.

Ciri ajag memiliki fisik yang sedang, warnanya cokelat kemerahan. Bagian bawah dagu, leher, hingga ujung perutnya putih, sedangkan ekornya panjang dan berbulu tebal kehitaman.

Ajag memiliki lolongan keras dan jelas. Binatang ini biasa hidup berkelompok dalam lima hingga dua belas ekor, tergantung lingkungannya.

Dalam kondisi tertentu, dia dapat hidup soliter (sendiri). Jenis ini merupakan pemburu yang menyukai kelinci, kancil, babi hutan, kijang, dan rusa.

Penelitian tentang ajag di Indonesia masih terbatas. Belum ada data pasti mengenai populasinya di Sumatera dan Jawa.

Adapun keberadaan ajag di Jawa berada di Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, Gede Pangrango, Halimun Salak, dan Ujung Kulon. Di Sumatera kehadirannya terdeteksi di di Taman Nasional Gunung Leuser dan Kerinci Seblat.

Laporan IUCN, populasi ajag dewasa di seluruh dunia mencapai 2.200 ekor. Jumlah itu diprediksi terus karena ada anggapan bahwa jenis ini merupakan satwa yang merugikan. Kerusakan habitat dan berkurangnya mangsa memberi pengaruh terhadap populasinya.

Artikel Lainnya