Mencari Jejak dan Cara Produksi Miras di Papua, Ini Catatan Sejarawan Australia

Nyedulur
  • 2 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: IDN Times.

Miuman keras atau minuman beralkohol telah dikenal luas sejak 6.000 tahun sebelum masehi. Penemuan ini awalnya dikenalkan masyarakat yang tinggal di pegunungan antara Laut Hitam dan Laut Kaspia.

Mereka kemudian menciptakan minuman beralkohol setelah melihat beberapa anggur mereka berjatuhan. Sementara masyarakat Mesopotamia (Irak) memproduksi wine dan cukup terkenal di masanya 2.000 tahun kemudian .

Minuman keras atau miras kemudian berkembang pesat hingga sekarang. Bahkan di sejumlah daerah di dalam negeri telah menjadikan miras sebagai tradisi dan budaya.

Di Papua misalnya, sejumlah suku maupun masyarakatnya menyuguhkan miras untuk menghormati tamu. Bisa juga dijadikan persaudaraan antarsuku. Miras juga bisa dijadikan sebagai campuran masakan warga setempat.

Bagaimana tradisi miras di Papua?

Mengutip Detik, miras di Papua telah ada pada 3.000 tahun lalu. Minuman ini berbeda dengan fermentasi yang dilakukan masyarakat Mesir kuno aaupun Mesopotamia.

Masyarakat Papua memanfaatkan pohon aren untuk dijadikan miras. Demikian tulisan Peter Bellwood dari Australian National University dalam buku Man Conquest of the Pacific: The Prehistory of South East Asia and Oceania (1978).

Dalam tulisannya menyebutkan bahwa orang berbahasa Austronesia dari Asia yang datang di pesisir Papua sekitar 3.000 tahun yang lalu mengenalkan miras dan pengetahuan membuat minuman beralkohol dari sadapan pohon aren, nipah atau kelapa.

Secara tradisional, suku Mey Brat di Ayamaru, Papua Barat memiliki kebiasaan minum arak atau dalam bahasa setempat disebut dengan ara dju. Arak diminum suku Mey Brat pada pesta atau pertemuan atau dengan tamu.

Cairan itu disadap dari pohon aren. Di daerah utara Danau Ayamaru arak disebut djy atau tuwoq, berasal dari istilah Melayu tuwak.

Suku Tehit di Teminabuan, Sorong menyebut sagero sebagai minuman persaudaraan. Oleh suku Tehit, sagero ini disadap dari pohon aren.

Suku Sentani di Waena, Jayapura, membuat minuman tuak atau sagero dengan menyadap dari pohon kelapa.

Lain halnya di Nabire, miras lokal dibuat dari nira nipah, minuman ini dikenal dengan bobo.

Miras dari nira aren, kelapa atau nipah ini dikenal sebagai milo atau miras lokal. Adapun oplosannya disebut boplas atau minuman botol plastik.

Dalam sejarahnya, minuman keras modern di Papua diperkenalkan oleh pasukan Amerika, Belanda, dan Australia pada Perang Pasifik pada 1944.

Artikel Lainnya