Krisis Finansial Akibat Perang, Anak-anak Jerman Mainan Layang-layang dari Uang, Begitu Tak Berartinya

Nyedulur
  • 3 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Alphahistory.

Apa jadinya jika uang tidak ada nilainya. Dibuat bahan pembakaran tungku, mainan layang-layang anak, sampai dihambur-hamburkan di tepi jalan. Begitu tidak berartinya nilai uang akibat krisis finansial yang sangat hebat.

Itulah yang terjadi di Jerman usai Perang Dunia I. Mengutip IDN Times, Jerman mencoba membangun kembali negaranya dengan mencetak uang sebanyak-banyaknya. Dampaknya hiperinflasi.

Harga barang terus meninggi. Puncaknya pada tahun 1923. Di mana harga barang bisa sekitar satu triliun kali lebih tinggi dari yang seharusnya.

Orang membayar roti dengan gerobak penuh uang, Reichsmark. Saat itu Jerman masih menerapkan Reichsmark sebagai mata uangnya. Tapi tidak ada harganya.

Krisis uang juga pernah menghantam Venezuela. Negeri kaya minyak itu mengalami krisis dikarenakan perang saudara antara Maduro dan Chavez. Akibatnya harga minyak terjun bebas. Korupsi merajalela dan menyebabkan sanksi dari Amerika Serikat.

Venezuela menjadi negara paling miskin di Amerika Selatan setelah menyandang negara terkaya. Rakyat Venezuela tidak dapat bertahan hidup dengan uang. Mereka sampai memilih barter daripada uang!

Oleh karena itu, Presiden Venezuela sejak 2013, Nicolás Maduro, mengumumkan langkah baru untuk mengatasi hiperinflasi di negerinya. Yaitu dengan denominasi.

Tak hanya itu, rakyat Venezuela juga ramai-ramai meninggalkan negaranya. Per Maret 2019, PBB memaparkan 94 persen rakyat Venezuela hidup dalam kemiskinan dan lebih dari 10 persen bermigrasi ke negara lain.

Bukan hanya Venezuela dan Jerman yang mengalami krisis keuangan. Amerika Serikat dan Prancis pernah mengalami krisis keuangan akibat perang. Intip kisahnya

Artikel Lainnya