Kecelakaan Pesawat Bukan selalu Cuaca, Sabotase dan Terorisme Bisa Jadi Pemicu

Nyedulur
  • 3 bulan yang lalu
  • arief

Walaupun jumlah kecelakaan pesawat terbilang lebih kecil jika dibandingkan dengan transportasi darat. Namun, bukan berarti pesawat menjadi tempat aman.

Tapi hal yang menjadi catatan adalah kecelakaan pesawat dapat menewaskan ratusan penumpang. Sebab jumlah penumpang pesawat bisa mencapai ratusan.

Di kutip dari Kumparan, terakhir kecelakaan pesawat di Indoensia dialami Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 pada Senin, 29 Oktober 2018.

Penerbangan dengan rute Jakarta-Pangkalpinang menggunakan armada Boeing 737 Max-8 itu jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Lion Air yang baru beroperasi dua bulan itu jatuh dari ketinggian sekitar 2.500-3.000 meter sekitar 13 menit setelah take-off dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.

Bicara pesawat jatuh, ada beberapa faktor yang bisa menjadi sebab. Banyak, sih.

Sekitar 10 persen kerusakan yang terjadi pada pesawat atau hal yang menyebabkan pesawat jatuh saat penerbangan adalah cuaca buruk.

Misalnya saja insiden kecelakaan milik Garuda Indonesia Airlines dengan nomor penerbangan 421 pada 16 Januari 2002 terjadi akibat menghindari awan badai.

Kasus Adam Air yang jatuh di Perairan Majene, Sulawesi Barat pada 1 Januari 2007 silam. Lagi-lagi masalah cuaca buruk yang mengakibatkan rusaknya alat navigasi.

Kejadian ini memperlihatkan bahwa meski pesawat saat ini kebanyakan sudah dilengkapi alat bantu elektronik penerbangan seperti kompas giroskopik, satelit navigasi, dan uplink data cuaca dan fasilitas pengaman khusus, cuaca bisa jadi hal yang sulit untuk dihindari.

Bukan hanya saat penerbangan saja, cuaca buruk juga memengaruhi aktivitas pesawat saat hendak take-off maupun landing. Misalnya saja runway yang licin, bisa menjadi penyebab tergelincirnya pesawat.

Agar pesawat dapat terbang dengan baik, rangkaian mesinnya harus dapat bekerja dengan baik. Bahkan hingga ke bagian terkecil sekalipun.

Kerusakan yang terjadi pada bagian-bagian mesin ini akan menimbulkan konsekuensi besar. Itu sebabnya, pesawat terbang dan helikopter mesti menjalani inspeksi ketat dan pemeliharaan keselamatan rutin.

Misalnya saja mengganti bagian yang rusak dan usang, mengganti oli, menambahkan komponen baru, dan melakukan pemeliharaan untuk meminimalisir terjadinya kerusakan.

Kegagalan pada mesin pesawat menyumbang 20 persen kasus pesawat jatuh.

Tak hanya itu penyebab kecelakaan juga bisa karena di sabotase lho. Kok bisa? Ini penjelasannya.

Artikel Lainnya