Intip Tradisi Sarapan Para Raja di Keraton Yogyakarta, Ada Semur Terong hingga Sayur Lodeh, Jaga Tradisi Minum Teh

Nyedulur
  • 2 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Tempo.

Kehidupan di dalam keraton Solo dan Yogyakarta jarang terekspos ke publik. Termasuk soal menu yang disantap para raja dari Kasunanan Surakarta Hadiningra, Solot maupun Ngayogyakarta Hadiningratdi Yogyakarta, jarang diketahui masyarakat.

Meskipun sama-sama bangunan keraton, pastinya memiliki perbedaan. Salah satunya seperti tradisi sarapan yang dilakukan di dalam Keraton Yogyakarta ini.

Dilansir dari Kompas, tradisi sarapan para raja di Keraton Yogyakarta mulai Sultan HB VIII, Sultan HB IX, dan Sultan HB X yang dijelaskan dalam Buku Kuliner Yogyakarta, Pantas Dikenang Sepanjang Masa, ditulis Murdijati Gardjito DKK.

Hidangan sarapan untuk Sultan HB VII disajikan oleh tiga abdi dalem pada pukul 07.00 WIB di Njamban dekat dengan Ngindrakila.

Hidangannya cukup sederhana. Yakni minuman teh atau susu cokelat dan rokok. Serta ditambahkan roti sobek dan kue kering maupun mete.

Makanan tersebut dibawa abdi dalem dari Pawon Gondokusuman menuju Patehan Kraton, sebelum dibawa ke Ngindrakila secara beriringan.

Di bagian depan, abdi dalem yang membawa minuman dan abdi dalem terakhir membawa roti.

Sementara itu, sarapan untuk Sultan HB IX adalah telur rebus setengah matang dengan tambahan garam dan merica serta nasi gudeg. Untuk minumannya adalah teh hangat dan gula batu.

Di atas baki disediakan wijikan (mangkok berisi air untuk cuci tanan), karena saat makan Sultan HB menggunakan tangan tanpa sendok. Pada masa Sultan HB X, menu sarapan ditentukan oleh sang istri. Biasanya yang disajikan adalah telur rebus, roti, dan pisang rebus dengan teh atau kopi.

Dijelaskan saat menunggu sarapan dihidangkan, Sultan HB IX akan duduk sambil lesehan di bawah. Dia akan dilayani oleh istri dan dibantu para bedhaya. Mereka membawa makanan dan minuman ke gedung Jene dengan laku ndodhok (jalan jongkok).

Sultan biasanya akan makan dengan piring berukuran besar. Piring tersebut dipenuhi semur terung, sayur lodeh, dan tempe garit.

Porsi yang cukup besar tersebut nantinya akan dibagikan kepada para putra dan klangenan dalem sampai para keparak atau pembantu.

Makanan dari piring Sultan akan di ditempatkan dalam besi atau tempat sayur yang berbentuk bulat lonjong yang terbuat dari porselen.

Tradisi minum teh sudah ada sejak dulu. Keraton Yogyakarta adalah pusat kebudayaan yang memiliki bangunan yang digunakan untuk mempersiapkan minuman Sultan.

Artikel Lainnya