Hati-hati, Ini Modus Pembobolan Kartu Kredit, Kuy Ketahui Cara Mengenali Pencurian Data

Nyedulur
  • sebulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Dignited.

Kemudahan bertransaksi kini semakin mudah dengan kehadiran digital paymen. Terlebih digital payment atau pebayaran digital bisa dilakukan melalui smartphone. Namun kehadiran digital payment ini belum menggusur kartu kredit sepeuhnya. Sejumlah masyarakat masih percaya dengan kartu kredit.

Dua-duanya memiliki plus-minus. Salah satu kelemahannya sama-sama rawan dibobol. Salah satunya pencurian data. Bisa-bisa duit Anda dikuras penjahat dengan berbagai modus.

Seperti dikutip dari CNBC Indonseia, kartu kredit juga rawan pembobolan. Tenang, tidak perlu panik, ketika menerima notifikasi melalui e-mail tentang transaksi. Apalagi tidak pernah melakukan transaksi.

Bisa saja itu adalah modus baru. Biasanya pelaku kejahatan melakukan cara tersebut untuk melakukan pencurian data dan pembobolan kartu kredit.

Pakar Keamanan Siber, Ruby Alamsyah mengatakan fraud kartu kredit itu biasa terjadi di platform online maupun internet di aplikasi maupun website yang tidak aman dan tidak resmi.

“Tidak aman artinya perusahaan atau website resmi tetapi tingkat keamanan mereka lemah, mudah dibobol atau mudah di-retas,” kata Rubi Alamsyah.

“Kedua adalah kalau website tersebut adalah website pissing ataupun website palsu yang dibuat penjahat siber. Dengan dua pola tadi sebenarnya data kita diakses, dibaca dan disalahgunakan oleh pelaku,” tambahnya.

Menurut Ruby Alamsyah mengungkapkan dalam tiga hingga empat bulan terakhir ada pola baru pencurian data dan pembobolan kartu kredit.

Skemanya, korban mendapatkan notifikasi dan e-mail yang menyatakan telah terjadi transaksi dengan nominal besar melalui kartu kredit.

Jika transaksi tersebut tidak dilakukan, maka korban dianjurkan ke sebuah file attachment di mana ada link yang harus di klik. Ketika di klik korban masuk ke sebuah website yang menyatakan bila korban mau membatalkan transaksi, harus mengisi formulir soal data-data pribadi dengan dalih untuk memastikan kebenaran pemilik kartu.

“Karena panik, ingin uang kembali dan tak sadar itu penipuan, korban memasukkan data pribadi bahkan sampai tampilan foto kartu kredit depan dan belakang,” jelasnya.

“Ini teknik social engineering. Pelaku akhirnya memiliki informasi korban dan bisa menggunakan data pribadi tersebut berikut dengan kartu kredit si korban untuk transaksi ilegal lainnya," jelasnya.

Ruby Alamsyah pun mengimbau jika mendapat notifikasi atau email atas transaksi kartu kredit yang tak dilakukan tak perlu panik. Langsung hubungi saja bank penerbit kartu kredit.

"Untungnya kalau transaksi kartu kredit masih punya waktu untuk membatalkan tanpa merugikan korban," jelasnya.

Artikel Lainnya