Hati-Hati Belanja Online, Data Pribadi Bisa Diretas Hacker, Antisipasi dengan Ini

Nyedulur
  • 5 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Jetorbit.

Belanja secara online atau daring terus menunjukkan peningkatan. Terlebih di masa pandemi ini, belanja online bisa menghindari tatap muka dan relatif lebih cepat.

Meskipun demikian, belanja online juga memiliki risiko. Seperti penipuan, barang tidak sesuai harapan, tidak cocok ukuran, warna kurang pas, hingga pencurian data pribadi. Yang terakhir ini, yang bahaya.

Peristiwa serangan siber atau pencurian data pribadi memang bukan pertama kalinya terjadi di platform media sosial.

Bahkan para peretas juga pernah menyerang teknologi bidang keuangan. Salah satunya adalah lembaga negara yang kerap menjadi incaran para pelaku kejahatan siber.

Berikut beberapa rangkuman berita peretasan yang menghebohkan sepanjang 2020 yang sudah dilansir Tempo.

Pada awal Mei, platform belanja online Tokopedia dilaporkan dibobol setelah seorang peretas mengklaim memiliki data 15 juta pengguna Tokopedia di dark web. Data yang diretas, seperti yang diumumkan, berupa nama, alamat email dan password.

Belakangan, diduga kebocoran data ini menimpa pengguna dalam jumlah yang lebih besar, sebanyak 91 juta pengguna.

Tokopedia memberi notifikasi pada semua pengguna mereka sambil memulai penyelidikan dan memastikan akun dan transaksi di platform tersebut tetap aman.

Beberapa hari berselang, Bukalapak dikabarkan kembali diretas, namun hal itu dibantah oleh platform belanja online tersebut.

Bukalapak mengatakan keamanan data pengguna menjadi prioritas, dan selalu mengimplementasi berbagai upaya demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan para pengguna, serta memastikan data-data pengguna tidak disalahgunakan.

Tautan yang beredar, menurut Bukalapak, adalah informasi dari kejadian tahun lalu di mana data 13 juta pengguna mereka dibobol.

Pada peretasan 2019, Bukapalak mengklaim sudah menemukan sumber peretasan dan menghentikan akses tersebut.

Selain itu, mereka juga mengingatkan para pengguna untuk secara berkala mengganti kata kunci, sambil perusahaan memperkuat sistem keamanan. Bahkan KPU pernah diretas.

Artikel Lainnya