Hati-hati, Banyak Mitos soal Ketindihan, Bisa Sebabkan Jiwa Melayang, Kenali dan Cermati Gejalanya

Nyedulur
  • 4 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Dr Lynelle Schneeberg

Pernahkah Anda merasa ketindihan? Atau saat bangun tidur, tubuh tidak bisa digerakan. Seolah-olah ada yang menindih hingga tidak bisa bergerak maupun berteriak.

Sebagian individu banyak yang pernah merasakan kondisi seperti itu. Peristiwa seperti ini bisa menimbulkan korban jiwa. Sebetulnya ada nggak istilah medis untuk ketindihan?

Sebagian masyarakat menyebut ketindihan memiliki banyak mitos. Semisal mimpi buruk, didatangi setan, hantu, demit hingga dijemput malaikat maut. Macam-macam versinya.

Dikutip dari CNN Indonesia, ketindihan sama sekali tidak berkaitan dengan sesuatu yang berbau horor. Dalam dunia medis, fenomena ini disebut sleep paralysis atau kelumpuhan tidur.

Psikolog klinis, Jade Wu, menggambarkan kelumpuhan tidur sebagai gangguan atau gejala gangguan tidur yang sementara mengubah mobilitas, persepsi, pemikiran dan keadaan emosional selama transisi antara tidur dan bangun. Menurutnya, ini pengalaman yang cukup umum dialami.

“Kata 'lumpuh' yang jadi bagian dari kelumpuhan tidur sebenarnya terjadi tiap malam saat Anda tidur selama tidur rapid eye movement (REM),” tulis Wu dalam sebuah artikel di Psychology Today.

Momen REM ini biasanya mengambil porsi 20-25 persen total waktu tidur. Selama REM, otak cukup aktif seperti saat Anda dalam kondisi terbangun. Ini juga momen di mana biasanya mimpi muncul. Saat REM, tubuh tidak bergerak tapi sebaliknya dengan mata.

Oleh karenanya, tiap malam ada batas antara kesadaran dan tidur jadi tipis. Tiba-tiba Anda terbangun dan tidak berdaya, berhalusinasi juga memproses emosi.

Umumnya masalah ketindihan bisa disebabkan banyak hal. Buka tautan berikut untuk mencermatinya.

Artikel Lainnya