Fakta Ghosting, Tindahkan yang Dituduhkan Pada Kaesang, Psikolog: BIsa Timbulkan Traumatis

Nyedulur
  • 3 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Viva.

Putra bungsu Presiden Joko Widoo, Kaesang Pengarep mencuri perhatian warganet. Dia menjadi buah bibir hingga jagat maya bergetar. Pasalnya dia dituduh melakukan ghosting dengan mantan kekasih.

Tindakan tersebut dituduh menyakiti Fellicia Tissue. Yakni perempuan yang sekitar lima tahun berpacaran dengan Khaesang Pangarep.

Dilansir dari Liputan6, adik Gibran Rakabuming Raka ini telah membantah tuduhan yang dimaksud. Dia menampik menyampaikan keinginan mengakhiri hubungan dengan Felicia pada pertengahan Januari 2021.

“Waktu itu juga aku dimaki-maki. Tapi, ya wes lah (ya sudah lah) aku diam saja,” ucap Kaesang dalam pengakuannya.

Ghosting yang dituduhkan pada Kaesang adalah istilah yang makin populer pada empat hingga lima tahun ke belakang.

Menurut psikolog berbasis di New York City, Amerika Serikat, Loren Soeiro, melansir laman Psychology Today melalui Liputan6, tidak sedikit kasus ghosting. Bahkan sudah jadi "praktik rutin."

“Bagi salah satu klien saya, ghosting adalah respons praktis. Dia tidak memiliki hubungan pribadi atau profesional dengan orang yang dia kencani, dan teman-teman mereka tidak mengenalnya. Jadi, ketika berhenti menanggapi pesan, dia tahu tidak akan ada konsekuensinya," tuturnya.

Meski pasien Soeiro merasa bersalah, dia tidak melihat ghosting sebagai kesalahan moral.

“Jelas, dia tidak menginginkan alternatif lain, berjuang melalui begitu banyak percakapan yang berantakan,” tuturnya.

“Bagi pasien saya, mengakhiri komunikasi secara tiba-tiba alias ghosting sebenarnya adalah solusi yang elegan. Orang yang dikencani dapat menyimpulkan dari kurangnya kontak bahwa dia tidak lagi tertarik,” sambung Soeiro.

Soeiro menyebut, fakta psikologi lain dari ghosting adalah adanya kemungkinan keterlibatan disonansi kognitif.

“Otak kita secara alami fokus pada informasi yang menegaskan keyakinan, yang sudah ada sebelumnya, bahkan ketika bukti lain menunjukkan, bahwa kita mungkin salah,” tuturnya.

“Ghosters, seperti pasien saya, sering menjalani 'senam kognitif yang rumit' untuk meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang mereka lakukan baik-baik saja. Selain itu, ghosting juga bisa jadi hasil dari serangkaian keyakinan tertentu tentang kencan,” sambung Soeiro.

Jika orang yang Anda sukai berhenti membalas pesan, konsekuensi emosionalnya dapat berubah dari tidak menyenangkan hingga parah. Sangat kurangnya penyelesaian hubungan menyebabkan ambiguitas untuk menafsirkan apa yang salah.

Artikel Lainnya