Eits, Ini Miras Khas Indonesia, Tersebar Mulai Yogyakarta Hingga Papua, Lapen Bisa Bikin Anda Tersungkur

Nyedulur
  • 3 bulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Tempo.

Tak diduga minuman keras atau miras buatan Indonesia cukup banyak. Terutama miras buatan rumahan atau home industry, tersebar di beberapa daerah. Malahan ada yang sudah memiliki izin produksi dan dinyatakan legal.

Minuman beralkohol butan masyarakat umumnya bukan untuk mabuk-mabukan. Itu sejarahnya. Tapi untuk menjalin keakraban. Semisal sejumlah suku di Papua menyuguhkan miras untuk persaudaraan antarsuku.

Adapun nama miras cukup unik. Sesuai dengan bahan pembuatan dan produksi daerah atau kota asalnya. Misalnya arak di Tuban disebut Tuak. Begitu juga dengan di Lombok juga disebut tuak lantaran bahannya nyaris sama.

Mengutip IDN Times, Tuak dari Lombok dihasilkan dari bunga aren. Pengerjaannya dilakukan di tengah hutan, dekat pohon-pohonnya.

Pohon aren memang banyak ditanam di kawasan hutan. Butuh waktu semalaman untuk mengolahnya. Mulai dari menunggu sari-sari bunga keluar, hingga airnya mengalir memenuhi cawan atau ember penampung.

Air yang keluar itulah yang disebut sebagai sari bunga aren. Kemudian, sari bunga aren dicampur akar pohon bujur yang sudah dipotong-potong. Akar bujur memberi efek warna merah muda. Juga berperan meningkatkan kadar alkohol. Kadar alkohol tuak yang baru jadi berkisar 8 persen.

Wisatawan asing tidak sulit mencari arak Bali. Cukup banyak dan mudah menjumpai minuman khas Pulau Dewata ini. Minuman ini disinyalir punya kadar lebih tinggi, yakni mencapai 30-50 persen.

Dalam takaran yang tak pas, arak bisa memabukkan. Namun, fungsi utama arak bukan untuk membuat orang mabuk. Sejatinya minuman ini untuk keperluan upacara adat dengan ritual tertentu. Sama seperti daerah lain, tujuannya untuk keakraban.

Ballo adalah tuak atau araknya orang Sulawesi Selatan. Ballo terbuat dari pohon nipa. Bisa juga dibuat dari beras atau pohon lontar (ballo tala). Masing-masing memiliki nama yang berbeda.

Zaman dulu ballo dipakai untuk minuman perjamuan tamu-tamu kerajaan. Namun, makin ke sini, penikmatnya semakin meluas. Mulai orang biasa hingga bangsawan gemar menikmati ballo. Kadar alkoholnya mirip tuak dan arak.

Masyarakat Papua sudah terbiasa dengan miras. Tapi bukan untuk mabuk-mabukan. Warga Papua memproduksi swansrai dari fermentasi air pohon kelapa yang sudah tua sebagai minuman khas. Layaknya tuak dan arak, swansrai memiliki kadar alkohol berkisar 20-30 persen.

Jika ingin kepala berat cobalah lapen. Inilah miras yang dibuat warga Yogyakarta. Kadar alkoholnya bisa mencapai 80 persen, sebab dibuat dari cairan alkohol murni.

Cairan itu dicampur air biasa dengan komposisi 1:4 atau 1:5. Selanjutnya lapen dicampur dengan cairan perasa buah-buahan. Di beberapa tempat, lapen dijual ilegal karena termasuk minuman keras. Meminumnya bisa membuat tersungkur dan kepala terasa berat. Cobalah.

Artikel Lainnya