Desa Kuno di Pulau Dewata Tak Ikut Rayakan Nyepi, Kenapa? Ini Sejarah Bali Aga

Nyedulur
  • sebulan yang lalu
  • arief

Sumber Foto: Kumparan/Flickr.

Kurang satu hari lagi umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi, tahun Caka 1943. Tahun ini Nyepi akan jatuh pada Minggu 14 Maret 2021. Kurang satu hari lagi, gaes.

Umumnya hampir seluruh warga di Bali akan merayakannya. Terhitung mulai hari ini tidak ada lagi penerangan. Semua aktivitas dilakukan di dalam rumah. Pendatang atau wisatawan dilarang berisik selama umat Hindu beribadah.

Sebutan Nyepi berasal dari kata sepi, yang artinya sunyi atau senyap. Selain itu, Nyepi sebenarnya merupakan tahun baru umat Hindu, berdasarkan kalender caka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.

Tapi tidak semua warga Bali merayakannya. Ada satu desa yang tidak melakukannya, seperti umat Hindu di Pulau Dewata pada umumnya.

Dikutip dari Sindonews,desa yang dimaksud adalah Tenganan. Lokasi desa ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali Timur, umat Hindu setempat tidak ikut merayakan. Konon, desa ini menggambarkan budaya Bali sesungguhnya.

Tenganan adalah desa tradisional yang mendapatkan sebutan Bali Aga atau Bali Asli. Nama Tenganan berasal dari kata tengah atau ngatenghang, atau kurang lebih bermakna pindah ke tengah.

Asal nama Desa Tenganan dapat dihubungkan dengan cerita Raja Bedahulu Mayadenawa yang sangat sakti. Tapi punya sifat sombong dan tinggi hati.

Pada masa pemerintahannya semua orang Desa Peneges di wilayah kerajaan Bedahulu dilarang melaksanakan upacara keagamaan maupun persembahyangan ke Pura Besakih.

Keadaan inilah yang membuat para dewa di sorga marah dengan kelakuan Mayadenawa.

Untuk memerangi sang raja yang amat sakti itulah Bhatara Indra turun ke dunia. Dalam peperangan inilah Raja Mayadenawa dikalahkan Bhatara Indra.

Kemenangan atas wafatnya Mayadenawa dirayakan oleh warga Peneges. Di mana Bhatara Indra memerintahkan kepada warga Peneges untuk kembali melaksanakan persembahyangan ke Pura Besakih.

Upacara kemenangan ini diberi nama Asua Medayadnyayaitu upacara kurban (caru) menggunakan seekor kuda berbulu putih bernama Onceswara.

Sayangnya, kuda Onceswara mendadak hilang. Bhatara Indra memerintahkan semua warga Peneges untuk mencari kuda tersebut.

Warga Penegea berhasil menemukan kuda tersebut, tapi dalam keadaan mati. Mereka sangat berduka karena kuda Onceswara sudah mati. Kisah selengkapnya, baca di sini.

Artikel Lainnya